frasamedia.com, Tanjungpinang – Di tengah dominasi berbagai genre musik yang menghiasi gelombang udara Tanjungpinang, band indie “Kalamun” muncul membawa warna berbeda.
Sebuah dentuman berbeda muncul dari balik tembok studio di Tanjungpinang. Dentuman itu bukan sekadar kebisingan, melainkan jeritan dan riff gitar sangar yang lahir dari band indie Kalamun.
Band asli Tanjungpinang bernama Kalamun ini mungkin belum terkenal luas di kancah musik arus utama. Namun cukup menggema di telinga para penggemar musik bawah tanah.
Kalamun yang terbentuk sejak 2018 ini, merupakan band indie Tanjungpinang yang mengusung genre musik berbeda yaitu death metal.
Genre musik death metal sendiri memadukan agresi, teknikalitas dan pesan sosial dalam balutan distorsi keras yang menggema.
Dengan suara growl yang berat dan menggelegar, musik ini menjadi jembatan antara lirik penuh kritik sosial dan sound brutal khas death metal.
Tidak hanya tampil keras dari sisi musik, Kalamun menawarkan lirik lagu yang tajam, mengangkat isu sosial, ketimpangan, eksploitasi dan luka mental generasi muda.
Band ini terbentuk dari ide sekelompok pemuda yang punya keresahan dan semangat yang sama. Sehingga Kalamun sepakat menawarkan musik yang ekstrem.
Lima pemuda Tanjungpinang yang punya visi dan ide yang sama itu yakni Ferriz (vokal), Toink (gitar I), Stevy (gitar II), Jay Gebhol (bass), dan Febri (drum).
Para pemuda ini meramu musik dengan referensi dan pengaruh dari band-band death metal legendaris seperti Death, Suffocation, Slayer, Necrophagist dan Metallica.
Kalamun juga memiliki referensi musik dari band-band Indonesia seperti Siksa Kubur, Hellcrust, Dead Squad dan band legendaris Kantata Takwa.
Namun Kalamun tidak semata-mata meniru. Dalam setiap aransemen, band ini menyisipkan unsur musik yang sama sekali berbeda.
Salah satu lagu yang berjudul “Kebencian Sampai Mati” menjadi semacam anthem yang bercerita tentang kesedihan dan kehilangan seorang sahabat.
“Lagu ini adalah lagu tribute untuk sahabat dan vokalis kami yang telah pergi selamanya. Almarhum yang menciptakan lagu tersebut,” ungkap Toink, sang gitaris.
Selain itu, band ini telah menciptakan beberapa lagu dengan genre death metal seperti “Kompulsif”, “Simpton Mentalitas” dan “Siklus Artifisial”.
“Kami bukan hanya ingin terdengar keras melalui musik death metal, tapi kami juga ingin menyampaikan sesuatu yang berarti,” ujar Toink,
Musik Bawah Tanah dan Hidup Sederhana
Dari kiri ke kanan: Toink (gitar I), Jay Gebhol (bass), Ferriz (vokal), Febri (drum) dan Stefy (gitar II). Foto: Kalamun Official
Yang menarik, meskipun memainkan musik ekstrem dan sangar, keseharian personelnya cukup sederhana dan tetap menjalani profesi masing-masing.
Ferriz sang vokalis, berprofesi sebagai barberman. Toink sang gitaris berprofesi sebagai jurnalis atau wartawan. Stefy berprofesi sebagai sales.
Sedangkan Jay Gebhol sang basis, berprofesi sebagai videografer dan Febri sang penggebuk drum atau drummer, berprofesi sebagai karyawan swasta.
“Death metal itu bukan hanya soal teriak dan distorsi. Ini cara kami bicara tentang hidup keras. Kadang tidak adil, tapi harus kami hadapi,” tegas Toink.
Meskipun belum menembus label besar, Kalamun telah menayangkan satu video klip lagu “Kebencian Sampai Mati” di platform digital YouTube.
Lagu penghormatan untuk seorang sahabat tersebut juga mendapat sambutan hangat dari komunitas death metal bawah tanah.
Tidak hanya dari Tanjungpinang, namun sambutan hangat juga datang dari daerah Kepulauan Riau lainnya.
Namun, bukan perkara mudah mempertahankan semangat bermusik ekstrem. Kalamun kerap menghadapi tantangan seperti keterbatasan panggung.
Tak hanya itu, minimnya dukungan infrastruktur musik ekstrem, hingga stigma negatif dari sebagian kecil masyarakat juga menjadi tantangan.
“Banyak yang pikir musik kami cuma marah-marah nggak jelas, padahal kami menyuarakan sesuatu. Death Metal itu ekspresi dan kreativitas, bukan sekadar teriak-teriak,” tambah Toink.
Meskipun demikian, band death metal Tanjungpinang tersebut kini tengah menyiapkan album (EP) perdana dan akan segera rilis.
Lewat album perdana, lima pemuda Tanjungpinang ini berharap dapat membawa nama Tanjungpinang lebih terkenal dalam peta musik metal Indonesia.
“Kalau Jakarta bisa, kenapa Tanjungpinang enggak bisa?” tutup Toink, sambil tersenyum penuh semangat.
Dari kota kecil di tepian laut, Kalamun berharap dapat membuktikan bahwa musik keras bisa tumbuh subur, selama ada semangat, kreativitas dan keberanian. (Berita ini sebelumnya tayang di kontenfoto.com)
Editor: Mya





